Selasa, 25 September 2012

Sepucuk Surat dari Bapak dan Mamah

Anakku…
ketika aku semakin tua,..
aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku
suatu ketika aku memecahkan piring,
atau menumpahkan sup diatas meja, karena penglihatanku berkurang
aku harap kamu tidak memarahiku
orang tua itu sensitif,,,
selalu merasa bersalah saat kamu berteriak

Ketika pendengaranku semakin memburuk,
dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan,
aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”
mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya
Maaf, anakku… aku semakin tua

Ketika lututku mulai lemah,
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun
seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan
aku mohon, jangan bosan denganku

Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan,
seperti kaset rusak
aku harap kamu terus mendengarkan aku
tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil
dan kamu ingin sebuah balon?
kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang
sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Maafkan juga bauku…
tercium seperti orang yang sudah tua
aku mohon jangan memaksaku untuk mandi
tubuhku lemah…..
Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin
aku harap aku tidak terlihat kotor bagimu…
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
aku selalu mengejar-ngejar kamu… karena kamu tidak ingin mandi

Aku harap kamu bisa bersabar denganku,
ketika aku selalu rewel
ini semua bagian dari menjadi tua,,
kamu akan mengerti ketika kamu tua

Dan jika kamu memiliki waktu luang,
aku harap kita bisa berbicara
bahkan untuk beberapa menit
aku selalu sendiri sepanjang waktu
dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak bicara
aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan

Bahkan jika kamu tidak tertarik dengan ceritaku
aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu
Ketika saatnya tiba…
dan aku hanya bisa terbaring, sakit dan sakit
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku

MAAF…….
kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku,
selama beberapa saat terakhir dalam hidupku
aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama

Ketika waktu kematianku datang
aku harap kamu memegang tanganku
dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian
dan jangan khawatir, ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta
aku akan berbisik pada-Nya
untuk selalu memberikan berkah padamu
karena kamu mencintai, ibu dan ayahmu…

Terima kasih atas segala perhatianmu, nak…
kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah
Bapak & Mamah

Rabu, 04 Juli 2012

Travelling

travelling with mom

i can fly...


nunggu buswae sambil liatin bule...


patungnya besar amat mah...


Kotagede night


naik odong-odong di malioboro sambil nyanyi iwak peyek...


ayuk mah,... nyari keong di pantai...


Taman Pintar


Kuliner Simpanglima Semarang...

Senin, 02 Juli 2012

BERSIAP MENGHADAPI KEHILANGAN


Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya,berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak.

Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini,dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,"gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
"Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,"kata teller itu memberi saran.
Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller,membawa koinnya ke kolektor.
Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.
Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan toples.

Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar,dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yangdipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin danberanjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima.
Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.
Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata,
"Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata,
"Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".


Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan.
Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah.
Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?**
" Kemenangan Hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai”.

Rabu, 09 November 2011

Balita 3 Tahun Merawat Ayahnya yang Lumpuh

Kisah seorang balita perempuan yang baru berusia tiga tahun menjadi tumpuan hidup sang ayah setelah ia mengalami kecelakaan dan tak bisa lagi berjalan. Berita yang dilansir China News, Senin (20/12/2010), balita bernama Dong Xinyi merawat sang ayah, Dong Jian (26) dan juga membersihkan kotorannya.

Xinyi lahir di sebuah keluarga petani di Kota Huanghia di Provinsi Shandong, China, tahun 2007. Beberapa bulan kemudian, sang ibu meninggalkan rumah dan membawa Xinyi setelah Dong Jian mengalami lumpuh akibat kecelakaan. Namun, awal tahun ini, sang ibu mengirimkan Xinyi kembali ke sang ayah. Tidak diketahui mengapa ia melakukan hal itu. Hanya saja, sejak saat itu ia kemudian merawat sang ayah.

"Ia segalanya bagi saya. Setelah kecelakaan, istri meninggalkan saya. Ayah dan ibu tiri saya bahkan tidak peduli. Saya bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri," katanya.

"Namun, kini Xinyi adalah di sini dan saya sangat kagum pada dirinya," katanya. Tidak jelas, bagaimana sang ayah dan anak perempuannya memperoleh uang untuk biaya hidup.

Bersiap-siap mengambil air untuk mandi sang ayah

Membawa air untuk membersihkan badan sang ayah

Mengambil handuk untuk keringkan tubuh sang ayah setelah mandi

Persiapkan kompor listrik untuk masak makanan

Memasak makanan buat sang ayah

Dong Xinyi menjaga ayahnya yang sedang istirahat

Gambar terakhir memperlihatkan Xinyi sedang mengambilkan minum buat ayahnya, semua ini dilakukan Xinyi karena kasih sayangnya kepada sang ayah. Seorang anak apalagi masih berumur 3 tahun merawat ayahnya seorang diri merupakan suatu hal yang luar biasa. Dong Xinyi masih anak-anak, dia pasti mempunyai keinginan layaknya anak-anak lain, juga mempunyai mimpi-mimpi indah seperti anak-anak lain. Tapi kenapa dia harus dikondisikan seperti itu? Bukankah anak-anak lain sibuk dengan bonekanya, sibuk dengan mainan mobil-mobilan yang dipinjam temannya, sibuk tentang baju yang akan dipakai untuk ulang tahun temannya

Sabtu, 17 September 2011

Semarang - Yogyakarta


Perjalanan yang mengasyikan cuti 3 hari benar-benar aku manfaatkan pergi ke semarang nemenin suami reuni sekolah trus lanjut ke Yogyakarta ketemu sama orang tua...


Senin, 30 Mei 2011

Mawar


Mawar Pertama :
Ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengampuni orang yang beristigfar, Maha Pemberi taubat atas siapa saja yang bertaubat, dan menerima orang yang kembali kepada-Nya.

Mawar Kedua :
Cintailah orang-orang yang lemah, pasti kau mendapat kebahagiaan. Berilah kepada orang-orang yang membutuhkan, pasti kau mendapatkan kepuasan. Dan tahanklah marahmu, pasti kau mendapat kemaafan.

Mawar Ketiga:
Bersikaplah optimis, karena Allah selalu bersamamu, para malaikat selalu memohon ampunan untukmu, dan syurga pun selalu menantimu.

Mawar Keempat:
Hapuslah air matamu dengan berprasangka baik kepadaNya. Buanglah segala penderitaan dan kesedihanmu dengan mengingat segala nikmat Allah kepadamu.

Mawar Kelima:
Jangan sekali-kali beranggapan bahwa dunia ini sempurna atas diri seseorang, karena tidak seorangpun di dunia ini yang bisa meraih segala yang diinginkan, dan tidak ada seseorang yang terbebas dari kekurangan sedikitpun.

Mawar Keenam:
Jadilah seperti pohon kurma yang memiliki kemauan keras dan jauh dari gangguan. Bila ia dilempar dengan batu, ia justru menjatuhkan buahnya yang segar.

Mawar Ketujuh:
Pernahkan kau mendengar bahwa sesungguhnya kesedihan itu dapat mengembalikan kenangan di masa lalu, dan sesungguhnya kegelisahan itu dapat membenarkan kesalahan. Maka dari itu, mengapa kau harus bersedih dan merasa gelisaj.

Mawar Kedelapan:
Jangan mengharapkan datangnya ujian dan fitnah, tapi berharaplah datangnya ketentraman, keselamatan, dan kesehatan dengan izin Allah.

Mawar Kesembilan :
Padamkanlah api kebencian dari dadamu dengan memberi maaf kepada setiap orang yang berbuat jahat kepadamu.

Mawar Kesepuluh :
Mandi, berwudhu, memakai wewangian, dan bersiwak dengan teratur, merupakan obat mujarab untuk mengatasi kepenatan dan kesempitan.

(Dari Buku Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia. Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni.M.A)

Jumat, 22 April 2011

Kisah Mama Yang Mulia



Cintailah Mama kita sebagai mana kita mencitai diri kita sendiri. *_

"Shi Sang Chi You Mama Hau"_ *

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan
sangat sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. "Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang
yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua", kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia
tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya...

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman. Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi
sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu
tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat...

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu ............ .

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau" (terjemahannya "Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik").

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.

Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. "Apakah kamu punya uang?" tanya sang pemilik toko. "Tidak sekarang, nanti saya akan punya", kata
sang anak dengan serius. Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.

Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya "Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?". "Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang
dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah" kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.

"Apakah kamu mencuri, Nak?" Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. "Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri.
Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?" kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
melakukannya, demi kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. "Ia sebenarnya anak yang baik", kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu.
Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya. "Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya". Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu."Maafkan saya, Nak." "Tidak Bu, saya yang bersalah".............. ..

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumah nya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu. Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan. Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau", lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia
hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaan nya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. "Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak" kata ibu. "Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu", kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. "Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu", teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata "Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu." "Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga
sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi", sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 "Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu". Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan "Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini", ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan. Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.












Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.......... ..

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.
Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah memper siapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu,
sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberi kan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tsb, menangis "Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi."

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang. Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya. Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya. Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan,
demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah.......... ..

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi
hasilnya nihil. Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah "Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?"

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu "Shi Sang Ci You Mama Hau" dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk
pengemis tua itu dan berteriak dengan haru "Ibu? Ini saya ibu".

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya, "Apakah kamu ??..(nama anak itu)?" "Benar bu, saya adalah anak ibu?".

Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi ............... .

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.


_Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:_

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
bahkan rela mengorbankan nyawanya..
Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,
ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah
aku sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung
Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela
mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara
apapun ...........

Tidak diragukan lagi "Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini"

Kamis, 16 Desember 2010

7 CARA MENYAYANGI SUAMI


7 CARA MENYAYANGI SUAMI

Jika ingin memperlihatkan pada pasangan betapa dia begitu istimewa, Anda bisa saja bilang, "Aku sayang kamu." Atau, memberinya kejutan-kejutan kecil yang manis. Di atas segalanya, sebetulnya cara terbaik untuk membuatnya merasa istimewa adalah dengan tindakan atau perbuatan yang sederhana.

Caranya? Ya, dengan bersikap baik, sikap yang memperlihatkan padanya bahwa Anda mengerti dirinya. Kecil dan sederhana, kan, kelihatannya? Tapi percayalah, Anda akan mendapat balasan yang tak kalah istimewanya. Anda masih ingat, kan, perkawinan pada dasarnya saling menanamkan lebih banyak rasa saling percaya, persahabatan, serta kepekaan yang dalam akan kebersamaan.

Oleh karena itu, bila ingin membuatnya bahagia dan merasa beruntung telah menikahi wanita impian (yaitu Anda), terapkanlah salah satu atau beberapa tips berikut ini.

1. Beri waktu untuk sendiri
Anda dan pasangan buru-buru pulang ke rumah sesudah seharian bekerja lalu pada saat Anda memeluk anak, pasangan sibuk membaca koran yang belum sempat dibacanya tadi pagi. Sambil menggendong anak, Anda bertanya kepadanya bagaimana kabarnya di kantor seharian ini.
Dia tidak menjawab. Bahkan menoleh pun, tidak. Dia di rumah tetapi terasa seperti tidak di rumah. Terdengar akrab dengan kondisi tersebut?

Apa reaksi Anda? Pasti merasa tidak senang dan ingin marah. Hal ini sangat wajar dan dapat dimengerti. Tetapi selain pekerjaan dan keluarga, seorang pria memang sangat membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri karena hal ini akan membantu mereka untuk berubah dari seseorang yang kaku dan berwibawa menjadi seorang pria yang penuh perhatian dan kasih sayang. Banyak wanita yang menggunakan berbicara sebagai cara memperkuat ikatan, tetapi banyak pria menganggap berbicara sebagai sesuatu yang harus dilakukannya sepanjang hari untuk memastikan mereka tidak didesak ataupun dipaksa.

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh seorang wanita? Mengatakan pada pasangan, Anda tahu dan mengerti bahwa ia perlu memiliki waktu beberapa saat saja untuk diri sendiri, tetapi Anda tak mau itu bila hal ini terjadi setiap malam. Oleh karena itu, sebaiknya bahaslah bersamanya, bagaimana dan seberapa sering Anda berdua dapat memberi keleluasaan agar bisa memiliki waktu untuk diri sendiri tanpa melupakan kewajiban rumah tangga. Misalnya, Anda berdua mungkin bersepakat, sebelum dia masuk ke "gua"nya, dia meluangkan waktunya untuk Anda dan anak-anak terlebih dahulu. Percayalah, dia pasti akan merasa lebih bersemangat dan dengan senang hati akan memberikan keleluasaan pada Anda untuk memiliki waktu bagi diri sendiri begitu dia keluar dari guanya.

2. Dengarkanlah dia
Ada saatnya suami menuntut perhatian penuh dengan meminta Anda mendengarkan ceritanya tentang tim sepak bola kesayangannya yang memenangkan pertandingan, atau mesin printer baru yang kemarin dibelinya.

Sering kali, sesuatu yang menurut suami menarik atau penting namun belum tentu menarik dan penting bagi Anda. Oleh karena itu, pandai-pandailah bersikap. Jika perlu berdiplomasilah sedikit. Tak ada ruginya, kok, memberi perhatian atas apa yang diceritakannya walau mungkin Anda tidak tertarik dengan topik pembicaraannya. Percayalah, di lain waktu, ketika Anda menceritakan sesuatu yang tidak menarik baginya, dia akan mendengarkan Anda.

3. Beri waktu untuk sosialisasi
Pada dasarnya semua pia senang diakui dan dikagumi. Tetapi kadang mereka juga ingin pergi keluar dan berkumpul bersama teman-temannya. Berkumpul bersama teman-teman memberinya semangat. Dia merasa bebas untuk bercerita apa saja. Pengertian yang Anda berikan padanya membuatnya merasakan kedekatan yang luar biasa tanpa tuntutan yang berlebihan. Namun, tentu saja, tidak berarti dia boleh semena-mena dengan pengertian yang Anda berikan, tak berarti ia dapat melakukannya setiap malam. Contohnya, bila Anda memiliki dua anak usia balita, sekali sebulan keluar malam bersama teman-teman sudah merupakan suatu kemurahan hati dari Anda.
Berkumpul bersama teman-teman merupakan pemenuhan kebutuhannya antara tuntutan yang realistis dari keluarga dan pekerjaan.

Nah, bila masing-masing dari Anda - tanpa melupakan status masing-masing - menggunakan beberapa keleluasaan untuk menikmati waktu bagi diri sendiri sebagai kesenangan pribadi (tentunya tanpa melupakan status masing-masing dan memahami batasan sebagai seseorang yang telah berkeluarga), tampaknya dapat memberi dampak positif pada saat Anda berdua berkumpul kembali. Biarkan masing-masing jati diri tetap hidup. Jati diri yang membuat Anda berdua pertama kali jatuh cinta.

4. Beri perhatian kecil
Seorang suami akan sangat gembira jika istrinya merapikan meja kerjanya yang sangat berantakan atau telah menyiapkan secangkir kopi yang masih hangat sepulangnya dari kantor. Pasti dia akan tersentuh. Perhatian-perhatian kecil sangat berarti bagi pasangan. Hal ini mengingatkannya pada kebutuhannya dan penemuan atas dirinya yang merupakan prioritas. Oleh karena itu, lain kali cobalah untuk mengambil alih pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukannya, pada saat dia sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya atau bila dia sedang stres. Dia akan merasakan betapa Anda memperhatikannya.

Tentu saja, mengantisipasi kebutuhannya juga berlaku di atas tempat tidur. Misalnya, berinisiatif mengajaknya berintim-intim atau mengingatkan suami akan saat-sata ia masih lajang sekaligus saat ia merasanya dirinya begitu jantan dan menarik.

5. Beri pujian

Mungkin akan terjadi banyak sekali perubahan pada sorang pria jika ia sudah berusia 40 tahun atau lebih. Tapi satu hal yang pasti tidak berubah adalah rasa percaya diri pasangan yang tidak lepas dari bagaimana dia menjalankankan tugasnya sebagai "pria sejati". Entah itu dalam bentuk penampilannya di tempat kerja, kehebatannya di ranjang, dan perilakunya sebagai seorang ayah. Oleh karena itu, beri pujian sesering mungkin dan pastikan pujian itu tulus serta tidak berlebihan. Jangan berikan pujian hanya sambil lalu. Bila dia mendapat promosi, misalnya, katakan, "Wow, akhirnya mereka melihat hasil kerja keras kamu. Kamu memang berhak mendapatkannya. Kamu memang luar biasa!"

6. Beri kepercayaan
Jangan selalu mengatakan padanya untuk berhati-hati mengendarai mobil atau untuk segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan orang tuanya. Dia akan mengatasinya bila dia memutuskan untuk menyelesaikannya. Terlalu banyak nasehat akan membuatnya merasa tidak dipercaya dan hal ini dapat menjadi bumerang bagi Anda.
Bila Anda bersikap sebagai ibu, maka dia akan bersikap seperti anak-anak. Anda memberikan hadiah yang luar biasa kepada seorang pria bila berhenti mencoba mengendalikan perilakunya yang tidak bertanggung jawab. Dia harus belajar dari kesalahan yang dibuatnya.

7. Wujudkan impiannya
Bila dia mengatakan pada anda bahwa suatu hari, bukan besok, bukan bulan depan, dia sungguh-sungguh ingin naik gunung, cobalah gigit lidah Anda sebelum berkomantar, "Uh, lalu siapa yang akan mengurus anak-anak?" Kita semua punya mimpi. Dengan pekerjaan yang sangat menuntut dan melelahkan, anak-anak yang banyak, dan hubungan antara teman-teman serta keluarga, hidup pada tahapan ini merupakan sesuatu yang kaya dan layak dihargai. Tetapi juga perlu memberikan sedikit ruang untuk mewujudkan petualangan yang nyata. Impian menghubungkan kita pada masa lalu yang membuat kita merasa tidak terbatas dan berjanji pada masa depan untuk tidak terlalu bebas.

Cobalah untuk membuat interaksi yang lebih banyak positifnya dibanding negatifnya. Mungkin sebaiknya bersikap jujur bahwa Anda tidak dapat memberikan impiannya atau bahwa impiannya tidak praktis atau realists. Coba tanya pada diri sendiri, apa yang ingin Anda berikan pada pasangan? Dukungan atau malah mau menghancurkannya?