Rabu, 04 Juli 2012

Travelling

travelling with mom

i can fly...


nunggu buswae sambil liatin bule...


patungnya besar amat mah...


Kotagede night


naik odong-odong di malioboro sambil nyanyi iwak peyek...


ayuk mah,... nyari keong di pantai...


Taman Pintar


Kuliner Simpanglima Semarang...

Senin, 02 Juli 2012

BERSIAP MENGHADAPI KEHILANGAN


Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya,berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak.

Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini,dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,"gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
"Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,"kata teller itu memberi saran.
Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller,membawa koinnya ke kolektor.
Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.
Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan toples.

Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar,dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yangdipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin danberanjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima.
Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.
Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata,
"Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata,
"Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".


Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan.
Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah.
Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?**
" Kemenangan Hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai”.

Rabu, 09 November 2011

Balita 3 Tahun Merawat Ayahnya yang Lumpuh

Kisah seorang balita perempuan yang baru berusia tiga tahun menjadi tumpuan hidup sang ayah setelah ia mengalami kecelakaan dan tak bisa lagi berjalan. Berita yang dilansir China News, Senin (20/12/2010), balita bernama Dong Xinyi merawat sang ayah, Dong Jian (26) dan juga membersihkan kotorannya.

Xinyi lahir di sebuah keluarga petani di Kota Huanghia di Provinsi Shandong, China, tahun 2007. Beberapa bulan kemudian, sang ibu meninggalkan rumah dan membawa Xinyi setelah Dong Jian mengalami lumpuh akibat kecelakaan. Namun, awal tahun ini, sang ibu mengirimkan Xinyi kembali ke sang ayah. Tidak diketahui mengapa ia melakukan hal itu. Hanya saja, sejak saat itu ia kemudian merawat sang ayah.

"Ia segalanya bagi saya. Setelah kecelakaan, istri meninggalkan saya. Ayah dan ibu tiri saya bahkan tidak peduli. Saya bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri," katanya.

"Namun, kini Xinyi adalah di sini dan saya sangat kagum pada dirinya," katanya. Tidak jelas, bagaimana sang ayah dan anak perempuannya memperoleh uang untuk biaya hidup.

Bersiap-siap mengambil air untuk mandi sang ayah

Membawa air untuk membersihkan badan sang ayah

Mengambil handuk untuk keringkan tubuh sang ayah setelah mandi

Persiapkan kompor listrik untuk masak makanan

Memasak makanan buat sang ayah

Dong Xinyi menjaga ayahnya yang sedang istirahat

Gambar terakhir memperlihatkan Xinyi sedang mengambilkan minum buat ayahnya, semua ini dilakukan Xinyi karena kasih sayangnya kepada sang ayah. Seorang anak apalagi masih berumur 3 tahun merawat ayahnya seorang diri merupakan suatu hal yang luar biasa. Dong Xinyi masih anak-anak, dia pasti mempunyai keinginan layaknya anak-anak lain, juga mempunyai mimpi-mimpi indah seperti anak-anak lain. Tapi kenapa dia harus dikondisikan seperti itu? Bukankah anak-anak lain sibuk dengan bonekanya, sibuk dengan mainan mobil-mobilan yang dipinjam temannya, sibuk tentang baju yang akan dipakai untuk ulang tahun temannya